Memperingati Bodhisatva Kwan-Im

Air Suci Vihara Avalokitesvara (Kwan Im - Kiong) - Candi Pamekasan




Sumbangan Umat ditujukan
kepada Rekening
Yayasan Candi Bodhi Dharma rekening BCA: 1922677888 , Pamekasan






SELAYANG PANDANG

Vihara "AVALOKITESVARA"
dibawah pengurus YAYASAN CANDI BODHI DHARMA
(T.I.T.D KWAN IM KIONG)
CANDI - PAMERKASAN, MADURA, 69382
TELP/FAX : (0324) 326426 / 326347
Email: avalokitesvaracandi@hotmail.co.id

Candi Bekas Kerajaan Majapahit

      Hingga saat ini masih merupakan daerah yang terselubung dalam legenda untuk mengetahui apa yang terjadi pada masa silam di daerah Pamekasan. Hal ini memang bisa dimengerti sebab daerah Pamekasan hingga saat ini tidak ditemukan catatan-catatan yang otentik baik yang berupa enkripsi ataupun deskripsi seperti halnya didaerah Sumenep.

      Akan tetapi di berbagai tempat banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan budaya. Salah satu dari penemuan tersebut adalah apa yang ditemukan oleh seorang laki-laki bernama Pak Burung pada sekitar awal tahun 1800 yakni empat buah patung yang terbuat dari batu hitam yang keras di kampung Candi. Kampung Candi saat ini termasuk lingkungan Desa Polaga di wilayah kecamatan Galis, Pamekasan, Madura.

      Perkampungan Candi merupakan perkampungan yang lokasinya di dekat pantai, yakni pantai Selat Madura, pantai selatan di daerah Kabupaten Pamekasan. Pantai tersebut dikenal sebagai pantai Talang.

      Pantai Talang memang merupakan pantai yang landai dan baik sekali pemandangannya. Termasuk juga digunakan sebagai pelabuhan. Karena itu tidak heran kalau sejak zaman raja-raja memerintah, di pantai Talang dibangun sebuah pelabuhan yang walaupun tidak banyak berkembang sampai saat ini masih berfungsi. Berkat keindahan pemandangan di alam sekitar pantai Talang maka saat ini pemerintah daerah tingkat II Kabupaten Pamekasan membangun tempat pariwisata yang dinamai TALANG SIRING.

      Sesuai dengan fungsinya sebagai pelabuhan pantai Talang pada masa zaman raja-raja dahulu selalu dijadikan tempat berlabuh perahu- perahu dari seluruh penjuru nusantara, khususnya armada Majapahit untuk mensuplai daerah pamekasan, baik berupa keperluan keamanan ataupun keperluan spiritual seperti pengiriman patung-patung dan lain sebagainya.

      Demikian setelah kerajaan JAMBURINGIN berdiri (di dareah Kecamatan Proppo sebelah barat kota Pamekasan) dibawah kekuasaan Majapahit (awal abad XVI), pembangunan daerah pamekasan mulai dilakukan orang, termasuk pembangunan candi-candi (pada saat itu raja-raja di Madura khususnya Jamburingin masih beragama Budha)

      Pada mulanya candi kraton Jamburingin akan dibangun disuatu tempat yang agak berjauhan dengan kota Jamburingin. Karena itu candi yang dimaksud tidak jadi diwujudkan. Hingga saat ini dimana candi tersebut akan dibangun tetapi gagal, tempat tersebut sampai sekarang dinamai "CANDHI BURUNG" (Burung dalam bahasa madura berarti gagal). Desa Candhi Burung saat ini merupakan salah satu desa di kecamatan Poppo yang lokasinya berdekatan dengan desa Jamburingin (Nama Jamburingin yang dulunya sebagai nama sebuah kerajaan saat ini sudah menjadi nama salah satu desa di kecamatan Proppo Pamekasan)

      Kemudian raja-raja Jaburingin (keturunan Majapahit) tersebut membangun candi di sebelah timur kraton Jamburingin di kampung GAYAM (kurang lebih 2 kilometer ke arah timur kraton Jamburingin). Sampai saat ini masyarakat kampung Gayam (termasuk desa Proppo) masih menyebut tempat tersebut "CANDI GAYAM". Saat ini tempat tersebut merupakan semak belukar, namun masih terlihat bahwa ditempat tersebut pernah dibangun sebuah Candhi. Apalagi setelah ditemukan "BATU BATA BERUKIR" yang diperkirakan berkas dinding candi Gayam tersebut.

      Demikian kiriman patung-patung dari Majapahit ke kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba dipelabuhan Talang, Penduduk saat itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Karena itu penguasa penguasa kraton Jamburingin memutuskan untuk mebangun candi di tempat tersebut . Tetapi tak berapalama setelah itu agama Islam (agama baru) mulai tersebar di daerah Pamekasan dan mendapat sambutan baik dari penduduk. Karena itu candi di pantai Talang tak terlaksana juga. Patung-patung kiriman Majapahit ditinggalkan orang, lenyap terbenam oleh zaman dan memang benar-benar terbenam masuk kedalam Bumi, tertimbun tanah.

AVALOKITESVARA BODHISATVA (KWAN IM PO SAT)

      Demikian setelah pak Burung menemukan patung-patung diladangnya, berita tersebut sangat menarik perhatian penjajah Belanda. Karena itu pemerintha Hindia Belanda menugaskan Bupati Pamekasan saat itu yakni Raden Adullatif Palgunadi gelar Panembahan Mangkuadiningrat I (tahun 1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung penermuan Pak Burung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi karena saat itu pengankutan juga masih sangat terbatas dan patung tersebut sangat berat tak dapat diangkatnya. Pamindahan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan gagal pula. Maka patung-patung tersebut tetap berada ditempat ketika saat diketemukan.

      Akhirnya 100 tahun kemudian sebuah keluarga keturunan Cina didaerah itu membeli tanah (ladang) dimana patung-patung tersebut berada. Patung-patung tersebut dibersihkan dan baru diketahui bahwa patung -patung tersebut adalah patung-patung BUDHA versi Majapahit dalam aliran Mahayana yang banyak penganutnya di daratan Cina. Salah satu patung penemuan Pak Burung yang berukuran besar ternyata patung AVALOKITESVARA BODHISATVA. Berukuran:

Tinggi: 155 cm
Tebal Tengah: 36 cm
Teal Bawah: 59 cm

Avalokitesvara Bodhisatva merupakan versi Majapahit dari aslinya yang bernama KWAN IM PO SAT


Susunan Pengurus Yayasan Candi Bodhi Dharma

Ketua : Ir. Kosala Mahinda
Sekretaris : Janita Hodinata
Bendahara : Widyanti
Pembina : Dr. Ir. Yudi Wibowo Sukinto.SH.MH
  Imam Santoso
Penagwas : Lim Budi Santoso
  Dharma Kusuma




copyright © 2011
support by wonbit.com